SOLOK — Warisan adat yang dijaga lintas generasi kembali diteguhkan di Nagari Bukit Kandung, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Melalui Alek Batagak Gala, Alisman, S.Pd., Dt. Majo Sinaro dikukuhkan sebagai Manti Adat Suku Payo Boda, Sabtu (15/8/2026).
Pengukuhan tersebut bukan sekadar prosesi pemberian gelar adat. Di balik gelar Dt. Majo Sinaro terdapat sejarah panjang pewarisan amanah dari niniak moyang kepada generasi berikutnya.
Berdasarkan ranji dan garis keturunan yang disampaikan dalam prosesi adat, Alisman, S.Pd., Dt. Majo Sinaro merupakan pewaris gelar Dt. Majo Sinaro yang ke-8.
Pewarisan tersebut menjadi bagian dari prinsip keberlanjutan adat sebagaimana tergambar dalam filosofi “patah tumbuh, ditunggua tumbuh tunas”, yang mengandung makna bahwa adat dan kepemimpinan kaum harus memiliki penerus dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bukan Sekadar Menerima Gelar
Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat. Alisman, S.Pd., Dt. Majo Sinaro menjalani sumpah yang dipimpin oleh Ketua KAN Bukit Kandung, A. Dt. Mangkuto Sati.
Turut hadir Wali Nagari Bukit Kandung Asriyandi, para niniak mamak, tokoh masyarakat, serta sejumlah tamu undangan.
Hadir pula Letkol Inf. Jimson Andre Siahaan dari Batalyon Yonif TP 951/PM, sementara Kapolsek X Koto Diatas diwakili. Masyarakat Nagari Bukit Kandung juga turut menyaksikan prosesi adat tersebut.
Dengan menerima amanah sebagai Manti Adat, Alisman tidak hanya meneruskan sebuah gelar. Ia juga memikul tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai adat Suku Payo Boda, memperkuat hubungan dalam kaum, serta ikut menjaga marwah dan keharmonisan anak kemenakan.
Manti Adat diharapkan mampu menjadi bagian dari penyelesaian berbagai persoalan kaum melalui musyawarah, menjadi penengah ketika terjadi persoalan, serta menjembatani hubungan antara niniak mamak dan anak kemenakan.
“Dari Niniak Turun Ka Mamak, dari Mamak Turun Ka Kamanakan”
Makna pewarisan gelar tersebut semakin kuat melalui pepatah adat yang menjadi bagian dari kegiatan:
“Dari niniak turun ka mamak, dari mamak turun ka kamanakan.”
Pepatah tersebut menjadi pengingat bahwa adat tidak hanya diwariskan dalam bentuk gelar atau ranji keturunan. Di dalamnya terdapat amanah, pengetahuan, keteladanan, serta tanggung jawab yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pewarisan gelar Dt. Majo Sinaro kepada Alisman, S.Pd., bukan semata-mata persoalan siapa yang menjadi penerus dalam garis keturunan.
Lebih jauh, terdapat tanggung jawab moral untuk memastikan nilai-nilai yang terkandung dalam gelar tersebut tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan kaum.
Prinsip “patah tumbuh, ditunggua tumbuh tunas” menjadi gambaran bahwa keberlangsungan adat membutuhkan generasi penerus yang mampu menjaga apa yang telah diwariskan sekaligus meneruskannya kepada generasi mendatang.
Amanah Adat di Tengah Perubahan Zaman
Tantangan pemangku adat di tengah perkembangan zaman semakin kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta semakin beragamnya pola hubungan antargenerasi menuntut nilai-nilai adat untuk terus dihidupkan, bukan sekadar dijadikan simbol dalam setiap prosesi adat.
Manti Adat diharapkan hadir bukan hanya ketika berlangsungnya Batagak Gala, tetapi juga ketika kaum menghadapi persoalan.
Ia dituntut mampu menjadi penengah, perekat hubungan, sekaligus penghubung antara generasi tua dan generasi muda, sehingga nilai-nilai adat tetap dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut sejalan dengan filosofi:
“Mampaarek Nan Lungga, Mangumpuan Nan Taserak” — mempererat yang renggang dan menghimpun kembali yang tercerai-berai.
Kini, setelah gelar Dt. Majo Sinaro diwariskan kepada Alisman, S.Pd., Dt. Majo Sinaro sebagai pewaris ke-8, perjalanan menjaga amanah adat memasuki babak baru.
Gelar boleh diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi marwah adat harus terus dijaga.
Sebab, gelar adalah kehormatan, sementara amanah merupakan tanggung jawab yang harus dibuktikan melalui sikap, keteladanan, dan tindakan nyata.
Alek Batagak Gala di Nagari Bukit Kandung pun menjadi penanda bahwa adat masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai nilai kehidupan yang diharapkan tetap tumbuh, hidup, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Intelkriminal.co.id — Tegas, Tajam, dan Berimbang.

















